Viral di media sosial kepala desa (kades) di Matunru-tunrue, Kecamatan Cempa, tepatnya Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel) didebat oleh sejumlah pedagang gegara meminta agar retribusi pasar. Para pedagang sendiri tak menyambut baik terkait dengan kedatangan kades tersebut sebab mereka tak pernah diajak untuk musyawarah sebelumnya. Berita viral merupakan salah satu informasi yang melengkapi rasa jenuh. Permainan slot yang seru dapat dimainkan agar tercapainya kesenangan dalam diri anda. Segera mainkan dan dapatkan keberuntungannya!

Dalam video yang tengah beredar, tampak kades yang memiliki nama Jufri menemui para pedagang di pasar untuk bisa meminta retribusi pasar. Bukannya menerima bayaran untuk retribusi, kades Jufri diketahui langsung didebat oleh pedagang.

Viral Pedagang Pasar di Pinrang Adu Mulut dengan Kades Gegara Retribusi

Terlihat bahwa para pedagang protes sehingga terjadi ketegangan antara kades bersama dengan para pedagang. Jufri juga sempat memprotes pedagang agar tak usah berbicara apabila memang tidak mau untuk membayar.

Salah seorang pedagang yang kemudian menjelaskan terkait dengan bangunan pasar lebih dulu ada sebelum sang kades menjabat sebagai kepala desa tersebut.

“Kami membayar untuk dipindahkan itu Pak Desa. Kamu belum menjadi desa,” kesalnya dengan nada suara meninggi ditujukan kepada kepala desa.

Sang Kades tampak tak bergeming, ia tetap ngotot menyuruh para pedagang untuk dapat membayar. Pedagang yang lain juga ikut menyanggah. Mereka mengusulkan bahwa agar sengketa terkait dengan pembayaran dibahas setelah pasar sudah selesai.

“Bagus setelah pasar tutup dibahas itu,” ungkap dari suara salah satu pedagang perempuan.

Berdasarkan informasi terkait adanya adu mulut pedagang dengan Kepala Desa, salah seorang pedagang yang berinisial J mengaku bahwa pihaknya keberatan dengan sikap dari Kepala Desa Matunru-tunrue. Sebab hanya langsung ingin memindahkan pedagang tanpa adanya musyawarah terlebih dahulu. Pemindahan lokasi berjualan pun dinilai sangat tidak sesuai karena tempat yang lama dinilai lebih bagus.

“Saya dulu beli itu tempat. Ada tiga los. Jadi kalau dipindahkan ke tempat yang tidak sebagus yang sekarang jelas kami tidak mau,” ujarnya.

J menjelaskan, pihaknya juga bersama dengan sekitar kurang lebih 100 pedagang yang lain tidak mau untuk dapat langsung membayar retribusi. Harus ada penjelasan mengenai retribusi dan besarannya.

“Dulu kan kami beli los, jadi untuk retribusi itu tidak dipatok. Berapa-berapa pedagang ikhlas memberikan ke pengelola pasar,” tuturnya.

Ia pun berharap agar pihak Kecamatan dapat menjembatani masalah terkait adanya sengketa dan membahas jalan keluar agar para pedagang juga dapat kembali berjualan.

“Kita mau adakan musyawarah dulu. Kami berharap Pak Camat mau pertemukan kami semua. Kami mau bahas soal renovasi pemindahan tempat kok seperti itu. Juga retribusi kami mau dibahas dulu jangan langsung diminta begitu,” imbuhnya.

Camat Cempa, yakni Kamaruddin Yakub ditanya mengenai kejadian tersebut mengaku belum mendapatkan informasi itu. Ia mengaku juga akan segera memanggil Kepala Desa untuk dapat mendapatkan kejelasan.

“Belum ada saya dapat laporannya. Insyaallah kami akan panggil Pak Desa untuk mendengar masalahnya,” paparnya.

Terkait dengan adanya renovasi pasar yang informasinya menjadi sengketa antara Kepala Desa dan pedagang, ia menjelaskan bahwa memang pada dasarnya pasar tradisional sendiri itu dikelola oleh pemerintah desa karena merupakan aset dari desa.

“Pasar itu memang aset desa sehingga memang pada dasarnya wajar ada retribusi yang dipungut. Nah kami akan panggil untuk perjelas soal retribusi yang informasi sementara diributkan tersebut,” urainya.

Staf Desa Matunru-tunru, Jufri juga sempat menyampaikan bahwa ia bersama dengan Kepala Desa pada saat kejadian. Ia membantah bahwa kades melakukan pungutan. Justru kala itu sedang ingin mengatur pedagang.

“Jadi Pak Desa mau atur agar tidak campur antara pedagang sayur, pedagang ikan, pedagang pakaian. Tapi warga menolak,” jelasnya.

Ia menepis bahwa tidak ada sampai saat ini diatur retribusi. Nantinya akan segera diagendakan pertemuan untuk bisa membahas terkait dengan retribusi. Berita viral merupakan salah satu informasi yang melengkapi rasa jenuh. Permainan slot yang seru dapat dimainkan agar tercapainya kesenangan dalam diri anda. Segera mainkan dan dapatkan keberuntungannya!

“Belum ada pembicaraan soal retribusi. Nanti diagendakan sambil memanggil BPD juga dan pedagang,” urainya.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.